Penulis: Alfillail
AMBARARAJANEWS.COM_Isu
terkait dengan Mental Health atau kesehatan mental menjadi topik yang kian
ramai dibicarakan. Gaung tentang pentingnya menjaga kesehatan mental dapat
kita temui melalui sosial media, seminar, karya tulis hingga film.
Tidak
berlebihan jika isu ini kini menjadi pembahasan yang sangat krusial, mengingat
banyaknya kasus yang bersinggungan dengan kesehatan mental yang berujung pada
keputusan untuk mengakhiri hidup. Menariknya, remaja menjadi usia yang sangat
rentan terkena gangguan kesehatan mental.
Data
yang diperoleh dari hasil survei Indonesia- Nasional Adolescent Mental Helth
Survey (I-NAMHS) menunjukan bahwa pada tahun 2022, satu dari tiga remaja
Indonesia memiliki masalah kesehatan mental dengan presentase gangguan
kecemasan berada di urutan tertinggi.
Perkembangan
jaman yang selaras dengan kemajuan teknologi ternyata memberikan dampak yang
cukup signifikan terhadap masalah kesehatan mental. Kini masyarakat, terutama Gen Z dan kaum milenial sudah sangat familiar dengan istilah FOMO atau Fear of
Missing Out.
Sebuah
artikel yang dipublikasikan oleh Very
Mind mengartikan FOMO sebagai sebuah perasaan takut ketinggalan informasi
dari orang lain yang dianggap memiliki hidup yang lebih bahagia dan melakukan hal-hal
yang jauh lebih menarik.
Kini, fungsi sosial media tidak hanya sebagai media untuk bertukar kabar, mencari informasi atau mencari relasi tetapi juga sebagai ajang “Flexing” atau pamer. Entah itu pamer kekayaan, pasangan, travelling atau makan di resto mahal yang membuat kaum muda yang mungkin hobi rebahan dan menghayal semakin overtinking. Atau mungkin overthiking juga bisa dirasakan para worker setelah berselancar di sosial media. Lantas kemudian membandingkan hidupnya dengan orang lain.
Tidak
bisa kita pungkiri bahwa, terlalu banyak informasi yang kita dapat, nyatanya
bisa menjadi bumerang untuk diri kita sendiri. Apalagi jika informasi tersebut
sangat tidak relevan dengan kebutuhan.
Yuval Noah Harari pernah berkata ”Di dunia yang banjir informasi yang tidak relevan, kejernihan berfikir adalah kekuatan,”
Membatasi penggunaan sesuatu termasuk dalam hal ini sosial media agar tidak menjadi candu rasanya perlu dicoba untuk menjaga kejernihan pikiran.
Pernahkah kamu mendengar istilah digital minimalism? Digital minimalism adalah sebuah filosofi di mana seseorang memusatkan waktu penggunaan sosial media hanya pada segelintir aktifitas yang telah ia pilih dengan cermat dan membawa manfaat optimal bagi dirinya.
Memilih dan memilah sesuatu yang bermanfaat atau tidak, itu sangat berpengaruh pada produktifitas diri hingga berdampak pada kesehatan mental. Mungkin masih banyak dari kita yang tidak menyadari bahwa sesungguhnya kita telah lama lelah karena apa yang kita search di sosial media.
Terlalu banyak waktu yang terbuang, hingga tanpa sadar kita melewatkan banyak hal. Mungkin kita jadi jarang berolahraga, ngobol bersama teman atau menjalankan hobi, disebabkan waktu kita terlalu banyak digunakan untuk nonton drama korea hingga hidung kemerahan karena menangisi kisah bintang utamanya.
Lalu
kini, muncul satu pertanyaan. Bagaimana caranya berhenti jika sudah terlanjur
candu? Satu jawaban yang bisa saya berikan yaitu dengan Social Media
Milimalism.
Kamu tidak perlu berhenti sepenuhnya menggunakan sosial media jika memang kamu membutuhkannya. Misalnya untuk pekerjaan atau mencari informasi yang kamu butuhkan.
Namun, batasi penggunaanya saat kamu memang sedang tidak butuh. Kamu bisa menghapus aplikasi-aplikasi yang ada di HP kamu jika itu hanya
membawa kesenangan sesaat dan tidak memberikan kontribusi untuk hidupmu.
Kemudian selanjutnya, alihkan perhatian pada hal-hal yang ada di sekitar, jangan-jangan karena kita terlalu asyik dengan dunia maya kita jadi anti sosial.
Ciptakan lagi ruang, dimana kamu bisa mengenal diri, teman dan orang-orang di sekitarmu. Lalu, isi hari-harimu dengan hal menarik yang jarang kamu lakukan karena atensimu direnggut oleh sosial media. Seperti membaca buku, bermain musik, berolahraga atau mengobrol ringan dengan teman atau keluarga.
Well,
I think enough. Semoga bermanfaat.
Tentang Penulis: Alfillail, gadis asli kelahiran Kota Bima, NTB ini memiliki ketertarikan mengoleksi buku-buku tentang self improvement, membaca dan berdiskusi terkait isu sosial terutama psikologi dan keperempuanan serta sangat tertarik dengan dunia jurnalistik. Kini dirinya sedang menempuh pendidikan S1 di salah satu Universitas di Bali Utara.