Bahasa Rindu


Sumber Gambar: Dok. Pribadi

Penulis: Etik Maesawardani


Aku yang tengah merintih tersiksa karena rindu

Membelenggu bayangku setiap waktu

Seakan kuterpenjara dalam bui yang penuh dengan nada sendu 

Pilu kurasa ketika bayangmu menghampiri kediamanku

Mengusik ketenangan jiwa, tetapi lebih memilih bisu


Ingin rasanya segera melabuhkan ragaku dalam pelukmu

Tenggelam dalam kehangatan sentuhanmu

Menikmati aroma tubuhmu 

Dan berboncengan mesra menyusuri setiap sudut kota hanya denganmu


Tetapi sudahlah

Itu hanya sebatas angan

Biarlah goresan luka ini hanya untukku saja

Tak sanggup aku, jika harus melihatmu tersayat oleh luka yang sama


Tak ada insan yang mampu menenangkan, dikala rindu datang merasuki jiwa

Tak ada sakit yang lebih sakit dari menahan rindu yang tak kunjung bersama

Karena sejatinya obat rindu bukanlah pertemuan

Tetapi bersama dan tak ada kata untuk perpisahan 


Tetapi itu membuatku tersadar

Bahwa Tuhanku ingin melihat usaha

Usaha untuk bersama dengan satu makhluk ciptaan-Nya

Tuhan mungkin tersenyum dan iba

Setiap sepertiga malam melihatku menangis tanpa suara

Sesak di dada kucurahkan semua di atas hamparan sajadah


Air mata yang membasahi bawah pelipis menjadi saksi bisu

Bahwa aku mendatangi Tuhanku untuk memintamu 

Tak ada janji yang akan diingkari oleh Tuhanku

Karena bernegosiasi tanpa takut dirugikan hanyalah dengan Tuhanku


Jadi akan aku nikmati rasa rindu ini sejenak

Karena aku percaya

Kita akan bersama

Pada titik terbaik menurut takdir yang ditentukan-Nya


Tentang Penulis:  Etik Maesawardani, Gadis manis kelahiran Lombok Tengah ini merupakan seorang lulusan Diploma 3 Ilmu Perpustakaan di Universitas Pendidikan Ganesha, Singaraja. Dirinya kini tengah menikmati tugasnya sebagai pustakawan di salah satu sekolah di Kota Singaraja. Selain itu, Etik juga merupakan Ketua Umum Kohati HMI Cabang Singaraja yang sangat aktif menyoroti isu-isu keperempuan, baik lokal maupun nasional.