Aku yang tengah merintih tersiksa karena rindu
Membelenggu bayangku setiap waktu
Seakan kuterpenjara dalam bui yang penuh dengan nada sendu
Pilu kurasa ketika bayangmu menghampiri kediamanku
Mengusik ketenangan jiwa, tetapi lebih memilih bisu
Ingin rasanya segera melabuhkan ragaku dalam pelukmu
Tenggelam dalam kehangatan sentuhanmu
Menikmati aroma tubuhmu
Dan berboncengan mesra menyusuri setiap sudut kota hanya denganmu
Tetapi sudahlah
Itu hanya sebatas angan
Biarlah goresan luka ini hanya untukku saja
Tak sanggup aku, jika harus melihatmu tersayat oleh luka yang sama
Tak ada insan yang mampu menenangkan, dikala rindu datang merasuki jiwa
Tak ada sakit yang lebih sakit dari menahan rindu yang tak kunjung bersama
Karena sejatinya obat rindu bukanlah pertemuan
Tetapi bersama dan tak ada kata untuk perpisahan
Tetapi itu membuatku tersadar
Bahwa Tuhanku ingin melihat usaha
Usaha untuk bersama dengan satu makhluk ciptaan-Nya
Tuhan mungkin tersenyum dan iba
Setiap sepertiga malam melihatku menangis tanpa suara
Sesak di dada kucurahkan semua di atas hamparan sajadah
Air mata yang membasahi bawah pelipis menjadi saksi bisu
Bahwa aku mendatangi Tuhanku untuk memintamu
Tak ada janji yang akan diingkari oleh Tuhanku
Karena bernegosiasi tanpa takut dirugikan hanyalah dengan Tuhanku
Jadi akan aku nikmati rasa rindu ini sejenak
Karena aku percaya
Kita akan bersama
Pada titik terbaik menurut takdir yang ditentukan-Nya
Tentang Penulis: Etik Maesawardani, Gadis manis kelahiran Lombok Tengah ini merupakan seorang lulusan Diploma 3 Ilmu Perpustakaan di Universitas Pendidikan Ganesha, Singaraja. Dirinya kini tengah menikmati tugasnya sebagai pustakawan di salah satu sekolah di Kota Singaraja. Selain itu, Etik juga merupakan Ketua Umum Kohati HMI Cabang Singaraja yang sangat aktif menyoroti isu-isu keperempuan, baik lokal maupun nasional.