AMBARARAJANEWS.COM_Bahwasanya Bangsa
Indonesia patut bersyukur karena beruntung memiliki Himpunan Mahasiswa Islam
(HMI) yang menjadi salah satu bagian penting dari gerakan "driving
force" bagi penguatan wacana dan gerakan atas kader bangsa terutama
isu-isu keindonesiaan dan keislaman.
Saya sendiri sepakat
dengan apa yang telah dituliskan oleh Abdul Ghafar ini. Organisasi yang
didirikan oleh Lafran Pane di Yogyakarta pada 14 Rabiul Awal 1366 yang
bertepatan pada 5 Februari 1947 ini, secara psikologis, kata Ghafar, HMI telah
melewati usia transisi menuju kematangan berpikir akademis. Terbinanya insan
akademis, pencipta, pengabdi, yang bernafaskan Islam dan bertanggung jawab atas
terwujudnya masyarakat adil dan makmur yang diridhoi Allah Swt, adalah bukti
cita-cita organisasi dalam membina setiap kader---yang kemudian kami sebut
sebagai: lima kualitas insan cita.
Saya berani mengatakan,
bahwa semenjak HMI didirikan, ia memiliki peran sangat penting dalam perjalanan
sejarah kehidupan bangsa Indonesia ini. Lihat saja dari komitmen awal
berdirinya HMI, yang memiliki dua tujuan awal, salah satunya ialah ikut dalam
mempertahankan kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dari
tekanan neo kolonialisme Belanda melalui agresi militer satu dan agresi militer
kedua.
Pada abad 1970-1980,
HMI menjadi cikal bakal pengusung intelektualisme pembaharuan pemikiran
keislaman di Indonesia. Siapa lagi kalau bukan Ahmad Wahib dan Nurcholish
Madjid. Mereka berdua adalah kader-kader pemikir ide pluralisme dan sekularisme
yang sampai sekarang, pikiran-pikiran mereka masih dikaji dalam forum-forum
intelektual.
Namun itu dulu,
sekarang, secara perlahan, sepertinya HMI mulai terpuruk. Kader HMI sering
terjebak pada persoalan-persoalan yang remeh-temeh. Tak ayal seringkali
dijadikan alat empuk oleh kaum elite politisi, tak ubahnya sebagai alat oposan
yang dengan mudahnya mampu mengubah pola pikir kader HMI sehingga lupa akan
eksistensi sendiri sebagai gerakan nalar berpikir kritis, begitu kata Abdul
Ghafar.
Ya, saya sangat
membenarkan akan hal itu. Idealisme kader-kader HMI patut dipertanyakan lagi.
Kader-kader organisasi ini pikirannya seperti sudah hampir dipenuhi oleh
kepentingan yang bersifat prakmatis. Akibatnya, kader selalu sibuk dengan sifat
nasionalisme yang terpendam dalam keegoan masing-masing akibat gesekan
kepentingan tertentu.
Lihat saja isu kemarin
tentang pergantian ketua umum dengan menunjukkan akrobat berupa saling tuding
dan saling tidak percaya antara sesama Pengurus Besar terutama kepada Ketua
Umum Respiratori Saddam Al Jihad yang dituduh menyalahi aturan dalam AD/ART HMI
akibat isu reshuffle kepengurusan.
Semua itu diperparah
dengan gesekan-gesekan eksternal. Hal ini berkaitan erat dengan pergeseran arah
perjuangan atau paradigma kader HMI yang mengarah kepada politik praktis
sebagai basis dan orientasi utama. Maka tidak salah jika kebanyakan orang
mengatakan bahwa posisi HMI tidak ubahnya sebagai batu loncatan untuk meraih
kekuasaan semata "to organize of power".
Problem di atas
menyebabkan HMI mengalami proses stagnasi berpikir kritis progresif yang
menyebabkan kekuatan 'moral force' berupa "independensi" semakin
terabaikan begitu saja berubah menjadi 'political force'.
Sepinya berpikir kritis di tingkat aktivis HMI menjadi bukti bahwa telah berubah haluan menjadi pemalas untuk membaca dengan mengutamakan keuntungan prakmatis sehingga tumpul dalam menganalisis apalagi menulis perkembangan kehidupan bangsa baik sosial yang seharusnya menjadi dialektik kebangsaan di negeri ini.
Belajar dari buku-buku
sejarah perjuangan HMI, sepertinya HMI memang mengalami kemunduran di berbagai
sisi. Mulai dari kualitas intelektual kader, sampai bergesernya arah
tujuan---visi, misi.
Perubahan memang suatu keniscayaan itu sendiri. Tapi bukankah ketidaksiapan
atas perubahan akan berakibat fatal? Saya pikir begitu.
Jadi, di usia 74 tahun ini, kader HMI harus mulai berbenah, dari segi kognitif, afektif, dan psikomotorik. Kader HMI harus semakin berani melakukan gerakan baru, perubahan baru sebagai langkah strategis untuk mengatasi berbagai problematika yang sedang menggerogoti dalam tubuhnya sendiri. Tentu saja hal ini harus tetap menjadikan ilmu pengetahuan sebagai arus utama basis gerakan agar dapat mengharumkan nama baik bangsa dengan mempertahankan negara dari "penjajahan" pada era milenial.
Jika HMI dipandang sebagai lokomotif gerakan mahasiswa intelektual, idealnya ia harus mampu tampil dalam memberi sebuah keyakinan kepada sama-sama kader untuk mengubah kehidupan yang lebih dinamis dan membantu untuk mencapai kesadaran diri serta mampu merumuskan cita-cita bangsa. Bukan lagi berpikiran prakmatis-politis, egosentris, yang berujung saling menyalahkan satu dengan yang lainnya.
Sudah menjadi tanggung \jawab sesama kader, untuk sama-sama mengawal dan menjadi penyambung lidah masyarakat kecil dan mencoba mencari solusi kesulitan-kesulitannya, baik ekonomi, pendidikan, agama, dan mengenai persoalan yang berkaitan dengan perubahan sosial ke yang lebih baik.
Panjang umur, Himpunan.
_________
Nb: tulisan ini sebagian saya sadur dari tulisan Abdul Ghafar dalam kolom
detik.com