74 Tahun HMI

 

Sumber Gambar: ibnuarsib.blogspot.com
Penulis: JaswantoEditor: Etik Maesawardani

AMBARARAJANEWS.COM_Bahwasanya Bangsa Indonesia patut bersyukur karena beruntung memiliki Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) yang menjadi salah satu bagian penting dari gerakan "driving force" bagi penguatan wacana dan gerakan atas kader bangsa terutama isu-isu keindonesiaan dan keislaman.

Saya sendiri sepakat dengan apa yang telah dituliskan oleh Abdul Ghafar ini. Organisasi yang didirikan oleh Lafran Pane di Yogyakarta pada 14 Rabiul Awal 1366 yang bertepatan pada 5 Februari 1947 ini, secara psikologis, kata Ghafar, HMI telah melewati usia transisi menuju kematangan berpikir akademis. Terbinanya insan akademis, pencipta, pengabdi, yang bernafaskan Islam dan bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil dan makmur yang diridhoi Allah Swt, adalah bukti cita-cita organisasi dalam membina setiap kader---yang kemudian kami sebut sebagai: lima kualitas insan cita.

Saya berani mengatakan, bahwa semenjak HMI didirikan, ia memiliki peran sangat penting dalam perjalanan sejarah kehidupan bangsa Indonesia ini. Lihat saja dari komitmen awal berdirinya HMI, yang memiliki dua tujuan awal, salah satunya ialah ikut dalam mempertahankan kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dari tekanan neo kolonialisme Belanda melalui agresi militer satu dan agresi militer kedua.

Pada abad 1970-1980, HMI menjadi cikal bakal pengusung intelektualisme pembaharuan pemikiran keislaman di Indonesia. Siapa lagi kalau bukan Ahmad Wahib dan Nurcholish Madjid. Mereka berdua adalah kader-kader pemikir ide pluralisme dan sekularisme yang sampai sekarang, pikiran-pikiran mereka masih dikaji dalam forum-forum intelektual.

Namun itu dulu, sekarang, secara perlahan, sepertinya HMI mulai terpuruk. Kader HMI sering terjebak pada persoalan-persoalan yang remeh-temeh. Tak ayal seringkali dijadikan alat empuk oleh kaum elite politisi, tak ubahnya sebagai alat oposan yang dengan mudahnya mampu mengubah pola pikir kader HMI sehingga lupa akan eksistensi sendiri sebagai gerakan nalar berpikir kritis, begitu kata Abdul Ghafar.

Ya, saya sangat membenarkan akan hal itu. Idealisme kader-kader HMI patut dipertanyakan lagi. Kader-kader organisasi ini pikirannya seperti sudah hampir dipenuhi oleh kepentingan yang bersifat prakmatis. Akibatnya, kader selalu sibuk dengan sifat nasionalisme yang terpendam dalam keegoan masing-masing akibat gesekan kepentingan tertentu.

Lihat saja isu kemarin tentang pergantian ketua umum dengan menunjukkan akrobat berupa saling tuding dan saling tidak percaya antara sesama Pengurus Besar terutama kepada Ketua Umum Respiratori Saddam Al Jihad yang dituduh menyalahi aturan dalam AD/ART HMI akibat isu reshuffle kepengurusan.

Semua itu diperparah dengan gesekan-gesekan eksternal. Hal ini berkaitan erat dengan pergeseran arah perjuangan atau paradigma kader HMI yang mengarah kepada politik praktis sebagai basis dan orientasi utama. Maka tidak salah jika kebanyakan orang mengatakan bahwa posisi HMI tidak ubahnya sebagai batu loncatan untuk meraih kekuasaan semata "to organize of power".

Problem di atas menyebabkan HMI mengalami proses stagnasi berpikir kritis progresif yang menyebabkan kekuatan 'moral force' berupa "independensi" semakin terabaikan begitu saja berubah menjadi 'political force'.

Sepinya berpikir kritis di tingkat aktivis HMI menjadi bukti bahwa telah berubah haluan menjadi pemalas untuk membaca dengan mengutamakan keuntungan prakmatis sehingga tumpul dalam menganalisis apalagi menulis perkembangan kehidupan bangsa baik sosial yang seharusnya menjadi dialektik kebangsaan di negeri ini.

Belajar dari buku-buku sejarah perjuangan HMI, sepertinya HMI memang mengalami kemunduran di berbagai sisi. Mulai dari kualitas intelektual kader, sampai bergesernya arah tujuan---visi, misi.

Perubahan memang suatu keniscayaan itu sendiri. Tapi bukankah ketidaksiapan atas perubahan akan berakibat fatal? Saya pikir begitu.

Jadi, di usia 74 tahun ini, kader HMI harus mulai berbenah, dari segi kognitif, afektif, dan psikomotorik. Kader HMI harus semakin berani melakukan gerakan baru, perubahan baru sebagai langkah strategis untuk mengatasi berbagai problematika yang sedang menggerogoti dalam tubuhnya sendiri. Tentu saja hal ini harus tetap menjadikan ilmu pengetahuan sebagai arus utama basis gerakan agar dapat mengharumkan nama baik bangsa dengan mempertahankan negara dari "penjajahan" pada era milenial.

Jika HMI dipandang sebagai lokomotif gerakan mahasiswa intelektual, idealnya ia harus mampu tampil dalam memberi sebuah keyakinan kepada sama-sama kader untuk mengubah kehidupan yang lebih dinamis dan membantu untuk mencapai kesadaran diri serta mampu merumuskan cita-cita bangsa. Bukan lagi berpikiran prakmatis-politis, egosentris, yang berujung saling menyalahkan satu dengan yang lainnya.

Sudah menjadi tanggung \jawab sesama kader, untuk sama-sama mengawal dan menjadi penyambung lidah masyarakat kecil dan mencoba mencari solusi kesulitan-kesulitannya, baik ekonomi, pendidikan, agama, dan mengenai persoalan yang berkaitan dengan perubahan sosial ke yang lebih baik.

Panjang umur, Himpunan.

_________

Nb: tulisan ini sebagian saya sadur dari tulisan Abdul Ghafar dalam kolom detik.com


Tentang Penulis: Jaswanto adalah mahasiswa Jurusan Pendidikan Ekonomi S1 di Universitas Pendidikan Ganesha, Singaraja. Pemuda asal Tuban ini memiliki hobi membaca, menulis dan berdiskusi. Ia telah merilis dua novel dan satu buku kumpulan cerpen. Ia merupakan founder dari komunitas Perpustakaan Jalanan Lentera Merah dan Omah Aksara  yang bergerak di bidang literasi