Ambararajanews.com|Opini
Kita mulai pada slogan Bima Ramah (Religius, Amanah, Makmur, Aman, dan Handal) dengan melihat wajah Bima secara umum, yang nantinya akan saya tuliskan spesifikasinya.
Sudahkah kelima poin ini diaktualisasikan lewat tindakan? Pertanyaan ini adalah pertanyaan yang sangat fundamental untuk kita kaji sebagai bahan perenungan dan sebagai bahan penilaian terhadap keberhasilan Indah Damayanti Putri selama dia memimpin. Yang perlu kita ketahui bersama bahwa kemampuan seseorang pemimpin itu adalah bagaimana dia mampu mengubah visi menjadi kenyataan.
BIMA RAMAH (Religius, Amanah, Makmur, Aman, dan Handal)
1. Religius
Ketika kita berbicara tentang kepercayaan terhadap agama di Kabupaten Bima, hampir 100% penduduknya beragama Islam. Ketika kita berbicara tentang "Religius" berarti kita juga berbicara tentang nilai-nilai yang ada dan terkandung dalam keyakinan keagamaan kita.
Pada saat kepemimpinan IDP-Dahlan, di Desa Wane dibangunlah patung Hindu dan Budha dengan alasan memperindah tempat destinasi dan pariwisata di pantai itu. Yang menjadi pertanyaan kita bersama, dan sampai saat ini tidak mampu dijawab oleh Indah Damayanti Putri dan Dahlan M. Noor selaku Bupati dan Wabup, kenapa harus patung Hindu Budha?
Masalah ini kemarin, mendapatkan reaksi dan penolakan oleh masyarakat, bahkan sejumlah ulama mengutuk dan menolak bangunan patung Hindu itu. Ketika elemen masyarakat dan para ulama melakukan aksi demonstrasi dengan berbagai tuntutan, yang salah satunya meminta kepada Pemda untuk segera menghancurkan bangunan itu. Tapi sampai sekarang patung itu masih berdiri dengan kokoh, sama sekali Pemda tidak menaruh rasa hormat lagi kepada ulama yang selama ribuan tahun dan berabad-abad dihormati oleh masyarakat Kabupaten Bima. Ini fakta dan bukti bahwa Indah Damayanti Putri gagal menjalankan visi misinya yang pertama.
2. Amanah
Pemimpin memang seharusnya Amanah dalam menjalankan tugas dan kewajibannya sebagai seorang pemimpin karena telah dipercayakan oleh rakyat.
Ketika kita berbicara tentang indikasi korupsi yang melibatkan Indah Damayanti Putri dan Dahlan M. Noor, mengenai anggaran bibit bawang merah dan renovasi Pasar Tente dan Bolo yang mengkhianati kepercayaan rakyat dan merampok uang negara, apakah itu yang dikatakan amanah? Tentu kita bisa lihat dan kaji. Amanah yang dia katakan dan yang dia janjikan itu bohong. Saya katakan itu bohong.
3. Makmur
Ketika petani bawang merah dan jagung menangis dan menjerit karena kelangkaan pupuk dan tak mendapatkan penghasilan yang layak, sesuai dengan biaya dan tenaga yang mereka keluarkan, Bupati Bima malah mengancam para petani dengan bahasa yang tidak seharusnya dikatakan oleh seorang pemimpin (hal mandake ndai dohom tiloam nuntu pakaro). Apakah itu makmur?
Ketika masyarakat di beberapa desa di Kecamatan Donggo sana menangis, merintih, kekeringan, dan pastinya kehausan karena kekurangan air bersih. Mengingat air adalah sumber kehidupan bagi manusia dibelahan dunia manapun. Apakah itu makmur?
Sungguh biadab dan zolim. Di era industrialisasi dan kemajuan zaman serta kecanggihan teknologi sekarang, di Kabupaten Bima masih ada yang kekurangan air bersih. Sungguh biadab ini pemimpin yang tidak memperhatikan dan tidak mau memperjuangkan kemakmuran rakyatnya. Kekurangan air bersih di era industrialisasi zaman modern-kontemporer sekarang seharusnya menjadi aib peradaban.
4. Aman
Kita masuk pada kondisi sosial, konflik, wajah buruk keamanan yang ada di Kabupaten Bima. Narkoba sampai sekarang tidak pernah habis, anak-anak muda para generasi bangsa hancur oleh obat terlarang tersebut. Apa tindakan aparat kepolisian mengenai masalah yang tak pernah terselesaikan dari zaman ke zaman ini?
Pernahkah bupati Bima mengeluarkan himbauan dan pernyataan sikap bahwa Pemda akan bekerja sama dengan aparat kepolisian untuk mengusut serius masalah narkoba yang merusak generasi bangsa itu? Mahasiswa yang melakukan aksi demonstrasi dihadang dan ditembaki oleh aparat kepolisian karena Bupati Bima tidak pernah mau menemui dan menerima aspirasi dari para mahasiswa. Apakah itu yang disebut aman? Konflik sosial terjadi dimana-mana. Dimulai dari perampokan, pembunuhan, hingga peperangan antar desa. Apakah itu yang disebut aman?
5. Handal
Tidak ada yang namanya Handal. Yang ada hanyalah kejahatan korupsi, kesenjangan sosial, politik dinasti dan penolakan dimana- mana. Apakah kita masih mau mempercayainya? Apakah kita mau dibohongi dan ditipu lagi? Jatuh ke dalam lubang itu biasa, tapi kalau sampai jatuh dua kali kedalam lubang yang sama itu kebodohan namanya.
Sekarang Kita sudah mengetahui bersama bahwa Religius, Amanah, Makmur, Aman, dan Handal adalah slogan yang digunakan sebagai instrumen dan taktik politik untuk membohongi, menipu, menzolimi masyarakat. Sudah nyata setelah dia memenangkan konstelasi pilkada tahun 2015 lalu, Religius, Amanah, Makmur, Aman, dan Handal itu hasilnya nihil. Cacat secara implementasi dan aktualisasinya nol.
Editor : Lailalfil
Sekilas Tentang Penulis: Muhammad Raihan adalah seorang Mahasiswa sekaligus Aktivis asal Kota Bima yang tengah menuntut ilmu di Ibu Kota, Jakarta. Laki-laki yang memiliki hobi membaca buku filsafat dan menulis ini memiliki ketertarikan yang besar terhadap isu-isu sosial yang berkembang di masyarakat. Ia memiliki moto hidup yang sangat inspiratif yakni " Aku ada, aku berjuang, aku menang".